Aktivis HAM pelaku kekerasan seksual? Sebuah pelajaran tentang ‘sexual consent’

Demonstran berpartisipasi dalam ‘Slutwalk’ pada 2011. Kredit foto: Chris Brown di Flickr, Creative Commons.

“Ini cowok, ngomong keadilan, koar-koar soal hak asasi manusia, tapi pelaku kekerasan seksual. Organisasinya ga malu apa?”

Pertama-tama terima kasih, Anda tidak menyalahkan korban, dan Anda paham siapa dan apa yang salah. Dan tentu sangat wajar jika Anda berharap lebih banyak pada seorang aktivis HAM dan keadilan.

Tetapi, kalimat semacam itu, yang beberapa kali saya dengar di percakapan nyata juga seliweran di media sosial, juga mengandung satu asumsi yang salah bahwa ketika seseorang paham dan berkampanye tentang keadilan, maka otomatis dia akan paham “sexual consent” atau persetujuan seksual.

Saya tidak perlu menyebutkan kasus-kasus di kalangan aktivis yang mengemuka. Bukan, bukan karena melindungi nama organisasinya, karena toh kalian juga palingan sudah tahu akhir-akhir ini ada kasus di mana saja.

Tapi saya tidak ingin kalian salah fokus dan malah bergosip. Lagipula, saya yakin pelecehan dan kekerasan seksual pernah terjadi di hampir semua organisasi, termasuk organisasi para aktivis demokrasi dan HAM. Cuma belum ketahuan publik saja.

Paham HAM = paham kesetaraan gender?

Saya jadi teringat waktu saya mahasiswa di tahun 1990an di Yogyakarta, saya mendengarkan dua senior saya berdebat di kantin kampus. Senior yang satu (dulu) sosialis, yang satu lagi (masih) feminis.

Yang sosialis mengatakan perjuangan perempuan harusnya sekalian saja digabung dengan perjuangan melawan Orde Baru, tidak usah bawa isu khusus perempuan, malah jadi terpecah. Toh, menurut dia, kalau demokrasi dan sosialisme tercapai, perempuan pasti serta merta akan mendapatkan kesetaraan.

Yang feminis bilang, Anda terlalu yakin Bung, bahwa sosialisme akan membawa keadilan bagi perempuan. Meski keadilan sosial bagi rakyat (perempuan dan laki-laki) sudah tercapai, perempuan masih harus berjuang lagi untuk kesetaraan gender.

Saya diam-diam nguping, makan sop. Baru bertahun-tahun setelahnya saya paham yang feminis yang benar. (Perempuan selalu benar, HAHA).

Hampir 30 tahun berlalu, rupanya masih banyak orang berpikir bahwa keadilan sosial otomatis akan memberikan keadilan bagi perempuan.

Tidak. Patriarki adalah monster yang lain lagi. Dan kita semua harus menempuh perjuangan yang lebih panjang untuk menghancurkannya.

Jadi, kalau ada laki-laki yang sering bicara keadilan sosial dan HAM, melakukan kekerasan seksual, ya sangat mungkin. Dia mungkin hafal “prior and informed consent” bagi masyarakat adat berkait pengambilan tanah atau izin lingkungan. Tapi “sexual consent”? Ternyata itu lain perkara.

Kita semua, masyarakat Timur atau Barat, sama saja, tumbuh di kultur patriarki, maskulin, di mana laki-laki sangat yakin pendapat dia lebih penting daripada pendapat perempuan, termasuk dalam soal kapan, bagaimana, dan dengan siapa berhubungan seks.

Pendidikan seks yang mereka dapat kemungkinan datang dari sesama teman laki-laki yang sama-sama tololnya tentang “sexual consent” dan dari video-video porno yang diproduksi laki-laki cis-het yang tidak sungkan-sungkan mendegradasi perempuan demi kepuasan penonton laki-laki. Video porno itu bukan kenyataan. Coba lihat ukuran organ di video-video itu, bandingkan dengan kenyataan. Enough said.

Haruskah belajar persetujuan seksual’?

Apa sih pentingnya ‘sexual consent’? Harus, gitu? Saya banyak kerjaan mau mengubah dunia, ga sempat belajar persetujuan seksual. Lagian ‘awkward’ ah.

Zaman berubah. Semakin banyak orang, perempuan dan laki-laki, yang paham ‘sexual consent’. Dunia terus bergerak ke arah yang lebih adil bagi perempuan, dan impunitas laki-laki pun tergerus. Dan ini kabar baik bukan hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki. Saya yakin jika kesetaraan gender tercapai, kepuasan seksual kita semua akan lebih meningkat. Seks akan lebih menyenangkan untuk lebih banyak orang.

Bagi yang tidak peduli kamu menyakiti perempuan atau tidak (shame on you, may you burn in hell), ya saya kasih warning aja, kalau tidak mau belajar apa itu sexual consent, dan tidak mau belajar berhubungan seks yang sehat, tidak mau bertanya, ya siap-siap aja kena masalah. Zaman berubah cepat, sekarang mungkin kamu beruntung, karena korbanmu tidak berani bicara. Besok? Ada akun Twitter anonim yang membuka borokmu.

Cara mengenali ‘sexual consent’

Banyak laki-laki heteroseksual (istilah keren zaman sekarang, cis-het), termasuk aktivis, berpikir kalau perempuan suka padanya, udah ngobrol asik semalam suntuk, lalu pas ngantuk memilih tidur sekamar bahkan sekasur dengan dia, itu tandanya si perempuan mau dicium, dipeluk, dan sebagainya. Salah.

Laki-laki berpendidikan tinggi seorang aktivis pers mahasiswa bahkan bisa tanpa merasa bersalah mencium perempuan yang baru dia kenal, yang sedang tidur di tempat duduk di depan dia di sebuah gerbong kereta ekonomi, tanpa peduli si perempuan mau atau tidak, tanpa peduli temannya menyaksikan. Sang teman, laki-laki, pun tidak melarangnya.

(Ya ini kejadian beneran, terjadi pada saya sendiri, saya hanya ingat samar-samar karena saya tidur. Pelakunya seorang yang tentu paham keadilan, seorang aktivis 1998, yang belakangan minta maaf pada saya. Dia bilang dia melakukannya karena dia tidak menyangka akan berpapasan lagi dengan saya di kampus, mengingat saya Tionghoa, dia pikir saya ga bakal ada di lingkaran aktivis mahasiswa. Saya siram dia teh dingin ketika dia minta maaf, dan dia marah karena dia bilang dia sudah minta maaf, harusnya saya terima. Beberapa tahun kemudian dia meminta maaf lagi, dengan cara yang lebih baik. Saya terima maafnya, tapi ya tentu saya tidak lupa bagaimana laki-laki, aktivis atau bukan, menggunakan impunitasnya untuk menyerang perempuan).

Saya belakangan mendengar banyak cerita tentang kekerasan seksual dan menyaksikan bagaimana para laki-laki dan perempuan juga sering membela si pelaku dengan mengatakan bahwa “kucing dikasih ikan asin masak ga dimakan” atau sekadar kasus di mana “ah cuma salah paham, sang cowok salah baca arah, salah baca gesture si cewek”.

Nah daripada saya bicara tapi tidak dianggap karena saya perempuan, ini saya beri rujukan dari polisi Inggris yang menganalogikan “inisiatif mengajak berhubungan seks” dengan membuatkan seseorang teh. Video ini populer juga di Amerika Serikat, setelah kasus kekerasan seksual yang melibatkan mahasiswa Standford University, Brock Turner, membuka perdebatan tentang apa itu persetujuan seks.

Berikut tonton sendiri, ini dalam bahasa Inggris, yang tidak mengerti bahasa Inggris mestinya bisa paham dari animasinya yang sangat mudah dimengerti. Saya harap ada para pembaca yang terinspirasi minta persetujuan ke Thames Valley Police dan Blue Seat Studio untuk membuatkan versi bahasa Indonesianya.

Menyeruput teh bersama vs mencekoki teh

Kalau seorang perempuan ditanya, kamu mau teh, lalu dia bilang tidak, kamu tidak bikinkan dia teh kan?

Kalau kamu duduk dan ngobrol seru dengan perempuan yang kamu taksir, yang kamu tahu suka teh dan pernah minum teh dan kamu merasa dia suka dengan kamu dan MUNGKIN mau minum teh dengan kamu, apakah kamu akan bikinin dia teh tanpa kamu tanya dulu “Kamu mau teh?”.

Apakah kamu akan membuatkan teh tanpa dia minta? Lalu ketika kamu letakkan tehnya di depan dia dan dia tidak minum tehnya, apakah kamu akan mencekoki teh itu ke mulut dia?

Ada banyak lagi analogi dalam berbagai skenario yang mudah dimengerti di video itu.

Tip praktis seputar ‘sexual consent’

Berhentilah membela pelaku dengan mengatakan bahwa dia salah baca bahasa tubuh. Kalau dia salah baca bahasa tubuh, artinya dia tidak tanya langsung, artinya dia ASUMSI. Ya namanya asumsi, bisa salah kan. Lalu kalau asumsi kamu salah, dan perempuannya ternyata tidak mau dan jadi ketakutan serta trauma karena kamu cekokin teh, masak kalian mau menyalahkan dia lagi?

“Tapi, tapi, teman-teman saya cerita mereka ga perlu nanya untuk setiap langkah. Apa perlu saya bertanya untuk setiap langkah? Mau teh Upet atau teh Tjatoet? Aku cuma punya gula putih, ga ada gula merah. Tetep mau pakai gula? Berapa sendok? Kok jadi repot, gimana kalau dia jadi hilang moodnya?”

Persoalan lain, banyak dari kita tidak terbiasa berkomunikasi dengan baik, tidak dididik untuk bicara terus terang untuk banyak hal, apalagi seks.

“Saya malu bertanya. Saya mau membaca bahasa tubuh saja. Kalau dia sudah mau tidur satu kasur, artinya dia mau dong saya cium? Artinya ga apa-apa dong saya pegang payudaranya? Kalau dia diam saja, artinya dia ok kan?”

Ok, saya akan lampirkan satu rujukan lagi. Sayangnya masih bahasa Inggris juga. Saya harap ada yang bersedia meminta izin pada pembuat video ini dan menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, atau membuat versi Indonesia dengan bahasa yang mudah dikenali.

Video yang satu ini mengatakan persetujuan terbaik tentu saja dengan bertanya dan mendapatkan jawaban. Tetapi dalam video ada juga sedikit petunjuk-petunjuk bahasa tubuh.

Saya berdiskusi dengan seorang teman, cis-het perempuan yang sedang belajar menjadi “sex love and relationship coach”. Teman saya ini yang memberi saya rujukan ke video-video di tulisan ini. Ini kata dia:

Consent itu bisa berubah kapan saja, makanya komunikasi saat seks krusial. Nah kita semua tumbuh gak boleh ngomongin dan harus malu soal seks, lah gimana mau normalisasi percakapan sebelum, selama, dan setelah seks.

Nah ya, gimana dong? Solusinya, ya belajar berkomunikasi. Berubah. Kenapa? Ya seperti yang sudah saya paparkan di atas. Zaman berubah.

Tapi, beneran, saya malu sekali. Bisa-bisa saya tidak akan pernah berhubungan seks.

Saya akan mengutip pepatah agama yang bunyinya kira-kira begini: Jika kamu ragu, tinggalkanlah. Jadi kalau kamu tidak sungguh yakin perempuannya mau, meski dia istrimu sekalipun, berhentilah. Kamu tidak akan mati karena menahan nafsu.

Nah mungkin petunjuk dari teman saya bisa jadi rujukan juga:

Makanya disebut clear, enthusiastic, consent. Jadi kalau ada sedikit keraguan atau ketidakjelasan dari satu atau kedua pihak, jangan lanjut. Lalu belajar memulai dan menjalani percakapan mengenai consent. Pihak yg ragu juga bisa punya waktu dan ruang untuk refleksi dulu. Penting keduanya menciptakan atmosfir bahwa apapun yg terjadi mereka berdua tetap AMAN. Gak bakal ada tekanan. Keduanya pun jadi lebih bertanggung jawab.

Jadi seharusnya tidak ada omongan seperti: Tapi pas aku peluk dia, dia ga nolak. (Temanmu sedang membeku ketakutan). Tapi pas aku cium dia, bibir dia terbuka (Beneran? Yakin? Itu bukan cuma ilusimu aja? Kalau iya terbuka, apa karena antusias sama kamu atau karena alasan lain?). Atau: Dia istri saya, terserah aku dong mau nyekokin dia teh kapan aja.

Ada satu hal penting yang ditulis salah satu pengguna YouTube di kanal Blue Seat Studio. Komentarnya kurang lebih begini: Jika kamu tahu ada teman perempuan yang suka teh, sering banget minum teh, jangan kamu berpikir dia pasti mau minum teh bikinanmu, apalagi dicekokin teh sama kamu.

Seks terbaik tentu saja seks yang dilakukan kedua belah pihak dengan antusias. Bahkan perempuan yang pemalu pun pasti akan menunjukkan antusiasmenya ketika memang dia menginginkan tehmu dan tidak akan ada keraguan dalam dirimu tentang keinginan si perempuan akan tehmu.

Mari kita seruput teh bersama, dengan persetujuan dan antusiasme.

--

--

--

Journalist and founder of public service journalism initiative, Project Multatuli, at projectmultatuli.org.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Evi Mariani

Evi Mariani

Journalist and founder of public service journalism initiative, Project Multatuli, at projectmultatuli.org.

More from Medium

Balancing Both Worlds by Aimee Marsland Ryan

2 | Have you ever sat just sat there and wonder, “What is going on?”

Mendel Letters 71 — United Community Centers

Golden Oldies #5: Public Enemy’s Public Service