
On June 29, about 15 minutes before our final class in the Entrepreneurial Journalism Creators Program (EJCP), I received a call from the hospital: my father died at 9:23 p.m. Jakarta time, in an emergency ward. The death certificate from the hospital said my father died due to respiratory failure triggered by Covid-19.
I rushed to the hospital, so I did not get to say goodbye to my EJCP teachers and cohorts properly in the final class.
I did not get to say goodbye to my father properly, either. In Indonesia, when our family member died of Covid-19, we could…

“Di mana rumah dukanya, Vi?”
Beberapa teman bertanya pada hari Rabu siang, 30 Juni 2021, beberapa jam setelah papa saya meninggal dunia di sebuah ruang isolasi Instalasi Gawat Darurat di Cibubur, kabupaten Bogor.
Tidak ada rumah duka bagi papa, yang meninggal pada 29 Juni 2021 pukul 21:23 WIB karena gagal napas yang dipicu oleh Covid-19. Ini masa wabah dan jenazah papa ditutup rapat-rapat dalam sebuah peti putih bertanda salib dan bergambar lukisan Perjamuan Terakhir, yang dibalut plastik.
Tidak ada pastor yang mendoakan papa sebelum petinya masuk oven kremasi di Cikadut, Bandung. Tidak ada lagu-lagu duka. Bahkan tidak ada foto papa…

Saya tidak suka orang sombong. Tapi saya punya perkecualian satu orang “sombong” yang saya hormati dan kagumi sepanjang lebih 20 tahun kami berteman.
Saya memanggil beliau Bang Daniel Dhakidae. Orangnya sombong. Dia pernah cerita Bahasa Inggris dia bagus sekali sehingga gampang saja dia masuk Cornell University di Amerika Serikat pada tahun 1984. Dia juga bercerita dia berlangganan Der Spiegel, sebuah majalah terpandang berbahasa Jerman, tentu karena dia mengerti Bahasa Jerman. Latin pun ia menguasai, suatu ilmu yang didapat dari dua seminari di Flores, St. Johanes Berchmans di Todabelu dan St. Peter di Ritapiret.
Sebagai mahasiswa S1 yang bahasa Inggrisnya masih…

“Ini cowok, ngomong keadilan, koar-koar soal hak asasi manusia, tapi pelaku kekerasan seksual. Organisasinya ga malu apa?”
Pertama-tama terima kasih, Anda tidak menyalahkan korban, dan Anda paham siapa dan apa yang salah. Dan tentu sangat wajar jika Anda berharap lebih banyak pada seorang aktivis HAM dan keadilan.
Tetapi, kalimat semacam itu, yang beberapa kali saya dengar di percakapan nyata juga seliweran di media sosial, juga mengandung satu asumsi yang salah bahwa ketika seseorang paham dan berkampanye tentang keadilan, maka otomatis dia akan paham “sexual consent” atau persetujuan seksual.
Saya tidak perlu menyebutkan kasus-kasus di kalangan aktivis yang mengemuka. Bukan, bukan…

“Marilah kepadaku, kamu yang lelah dan menanggung beban. Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” — Matius 11:28.
Di tahun-tahun ketika saya tumbuh sebagai seorang Katolik di Bandung, potongan ayat ini tertulis di sebuah lengkung di atas altar Katedral Bandung, salah satu gereja yang sering saya kunjungi sewaktu saya SMA.
Ayat itu sungguh saya simpan di dalam hati, dan Gereja Katolik, dalam benak saya, adalah sebuah institusi yang menawarkan kasih sayang melimpah kepada orang-orang yang lelah dan menanggung beban.
Namun, kejadian-kejadian dalam beberapa tahun belakangan ini memperlihatkan bahwa Gereja Katolik itu tidak sempurna, walaupun Paus sekarang, Francis, menunjukkan bahwa kasih sayang tetap…

Evi Mariani is Managing Editor at The Jakarta Post. She received her Master’s degree in Urban Studies from University of Amsterdam. She was a 2011–2012 Hubert Humphrey Fellow at Philip Merrill College of Journalism in University of Maryland.
How and why did you start a career in journalism?
I began journalism when I was a Communication Science student in Social and Political Sciences Department and in Universitas Gadjah Mada in the 1990s, the New Order era. The Social and Political Sciences Department’s student press organization published Sintesa magazine, one of the most vocal student press in Indonesia at that time. Since…

Perjalanan hidup kerap membawa kita ke tikungan tak terduga. Saya tidak pernah membayangkan saya harus belajar bahasa Indonesia lagi di usia 40. Betapa pengalaman ini membuat saya rendah hati; saya harus menerima banyak keyakinan saya salah.
Embus bukan hembus. Antre bukan antri. Mengilat bukan mengkilat, tapi mensyaratkan bukan menyaratkan. Untung saya selama ini pendukung kelas berat “mengubah”. Paling tidak martabat saya utuh di kasus itu.
Selain asumsi salah selama ini saya juga menemukan pengungkapan mengguncang. Misalnya, saya baru tahu (ya ampun) bahwa tilang itu adalah singkatan. Dan istilah pengepul itu bukan dari kata dasar “kepul” melainkan dari kata dasar “pul”…

Pada tanggal 10 Januari 2017 saya diberi kesempatan mengambil bagian dalam upaya menghentikan penggusuran paksa di Indonesia dengan memberi kesaksian di Mahkamah Konstitusi. Kesaksian saya berdasarkan pengalaman meliput dan memimpin tim liputan mengenai penggusuran paksa di Jakarta sejak zaman gubernur Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo hingga Basuki Tjahaja Purnama.
Pengacara Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alldo Felix Januardy, seorang Tionghoa muda yang saya kagumi, meminta saya membantu judicial review atau pengujian UU PRP №51/1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya. Saya bersaksi bersama dua ahli, sejarawan JJ Rizal dan antropolog UI Yudi Bachrioktora.
Demikian kesaksian saya:
Yang…

The city administration has laid out its plan for the city’s future, but a coalition of citizens who scrutinized the draft plan says the future as the administration sees it is ambiguous, vague and likely to get millions of Jakartans nowhere, with the city worsening from almost every aspect.
Members of the Citizens Coalition for Jakarta 2030 have met several times and read the draft they received in late December from rtrwjakarta2030.com. The group found vague assumptions in the plan, such as to limit the city population to 10 million by 2030. …

Penggusuran paksa adalah suatu metode lama yang telah digunakan sejak zaman dulu. Ciri-cirinya adalah, tidak ada dialog (sosialisasi satu arah, monolog), tidak ada diskusi dan partisipasi warga yang bakal dipindah, dan kerap menggunakan kekerasan (TNI, Satpol PP, buldoser).
Akhir-akhir ini ada banyak upaya menggiring opini publik bahwa penggusuran adalah relokasi, dan karena ada rusunawa maka penggusuran adalah manusiawi.
Orang-orang, dengan penghakimannya, telah menolak memikirkan bersama cara mencapai kota tanpa kumuh yang tidak melanggar undang-undang, tidak melanggar prinsip-prinsip PBB, bahkan yang tidak melanggar kerangka kerja Bank Dunia, yang standarnya sebenarnya cukup rendah. Mereka telah menutup pintu terhadap prinsip demokrasi dalam penataan…

Journalist and founder of public service journalism initiative, Project Multatuli, at projectmultatuli.org.