Banyak cendekiawan mangkir dari ilmunya ketika dihadapkan pada kekuasaan. Bang Daniel tidak mangkir sampai akhir.

Sebagian dari buku-buku yang ditulis, disunting, atau memuat tulisan Daniel Dhakidae.

Saya tidak suka orang sombong. Tapi saya punya perkecualian satu orang “sombong” yang saya hormati dan kagumi sepanjang lebih 20 tahun kami berteman.

Saya memanggil beliau Bang Daniel Dhakidae. Orangnya sombong. Dia pernah cerita Bahasa Inggris dia bagus sekali sehingga gampang saja dia masuk Cornell University di Amerika Serikat pada tahun 1984. Dia juga bercerita dia berlangganan Der Spiegel, sebuah majalah terpandang berbahasa Jerman, tentu karena dia mengerti Bahasa Jerman. Latin pun ia menguasai, suatu ilmu yang didapat dari dua seminari di Flores, St. Johanes Berchmans di Todabelu dan St. Peter di Ritapiret.

Sebagai mahasiswa S1 yang bahasa Inggrisnya masih…


Selama seseorang, laki-laki atau perempuan, dibesarkan dalam budaya patriarki, dan menganggap produk industri pornografi kapitalis maskulin adalah rujukan sahih untuk ‘pdkt’ ke perempuan, ya dia harus belajar apa itu “sexual consent”.

Demonstran berpartisipasi dalam ‘Slutwalk’ pada 2011. Kredit foto: Chris Brown di Flickr, Creative Commons.

“Ini cowok, ngomong keadilan, koar-koar soal hak asasi manusia, tapi pelaku kekerasan seksual. Organisasinya ga malu apa?”

Pertama-tama terima kasih, Anda tidak menyalahkan korban, dan Anda paham siapa dan apa yang salah. Dan tentu sangat wajar jika Anda berharap lebih banyak pada seorang aktivis HAM dan keadilan.

Tetapi, kalimat semacam itu, yang beberapa kali saya dengar di percakapan nyata juga seliweran di media sosial, juga mengandung satu asumsi yang salah bahwa ketika seseorang paham dan berkampanye tentang keadilan, maka otomatis dia akan paham “sexual consent” atau persetujuan seksual.

Saya tidak perlu menyebutkan kasus-kasus di kalangan aktivis yang mengemuka. Bukan, bukan…


Tiga puluh tujuh petinggi Gereja Katolik Indonesia berkunjung ke Vatican pada Desember 2019. Sumber foto: Asianews.it

Evi Mariani, The Jakarta Post, Jakarta

“Marilah kepadaku, kamu yang lelah dan menanggung beban. Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” — Matius 11:28.

Di tahun-tahun ketika saya tumbuh sebagai seorang Katolik di Bandung, potongan ayat ini tertulis di sebuah lengkung di atas altar Katedral Bandung, salah satu gereja yang sering saya kunjungi sewaktu saya SMA.

Ayat itu sungguh saya simpan di dalam hati, dan Gereja Katolik, dalam benak saya, adalah sebuah institusi yang menawarkan kasih sayang melimpah kepada orang-orang yang lelah dan menanggung beban.

Namun, kejadian-kejadian dalam beberapa tahun belakangan ini memperlihatkan bahwa Gereja Katolik itu tidak sempurna, walaupun Paus sekarang, Francis, menunjukkan bahwa kasih sayang tetap…


Evi Mariani is Managing Editor at The Jakarta Post. She received her Master’s degree in Urban Studies from University of Amsterdam. She was a 2011–2012 Hubert Humphrey Fellow at Philip Merrill College of Journalism in University of Maryland.

How and why did you start a career in journalism?
I began journalism when I was a Communication Science student in Social and Political Sciences Department and in Universitas Gadjah Mada in the 1990s, the New Order era. The Social and Political Sciences Department’s student press organization published Sintesa magazine, one of the most vocal student press in Indonesia at that time. Since…


Perjalanan hidup kerap membawa kita ke tikungan tak terduga. Saya tidak pernah membayangkan saya harus belajar bahasa Indonesia lagi di usia 40. Betapa pengalaman ini membuat saya rendah hati; saya harus menerima banyak keyakinan saya salah.

Embus bukan hembus. Antre bukan antri. Mengilat bukan mengkilat, tapi mensyaratkan bukan menyaratkan. Untung saya selama ini pendukung kelas berat “mengubah”. Paling tidak martabat saya utuh di kasus itu.

Selain asumsi salah selama ini saya juga menemukan pengungkapan mengguncang. Misalnya, saya baru tahu (ya ampun) bahwa tilang itu adalah singkatan. Dan istilah pengepul itu bukan dari kata dasar “kepul” melainkan dari kata dasar “pul”…


Kesaksian di Mahkamah Konstitusi 10 Januari 2017

Seorang anak menghapus buldozer simbol penggusuran karya Arut S. Batan. Gambar untuk kaos Pelatihan Menulis Islam Bergerak bersama warga rusunawa Jatinegara Barat tahun 2016. Credit: Evi Mariani

Pada tanggal 10 Januari 2017 saya diberi kesempatan mengambil bagian dalam upaya menghentikan penggusuran paksa di Indonesia dengan memberi kesaksian di Mahkamah Konstitusi. Kesaksian saya berdasarkan pengalaman meliput dan memimpin tim liputan mengenai penggusuran paksa di Jakarta sejak zaman gubernur Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo hingga Basuki Tjahaja Purnama.

Pengacara Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Alldo Felix Januardy, seorang Tionghoa muda yang saya kagumi, meminta saya membantu judicial review atau pengujian UU PRP №51/1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya. Saya bersaksi bersama dua ahli, sejarawan JJ Rizal dan antropolog UI Yudi Bachrioktora.

Demikian kesaksian saya:

Yang…


Does Jakarta know where it’s going, at least until 2030?

The city administration has laid out its plan for the city’s future, but a coalition of citizens who scrutinized the draft plan says the future as the administration sees it is ambiguous, vague and likely to get millions of Jakartans nowhere, with the city worsening from almost every aspect.

Members of the Citizens Coalition for Jakarta 2030 have met several times and read the draft they received in late December from rtrwjakarta2030.com. The group found vague assumptions in the plan, such as to limit the city population to 10 million by 2030. …


Penggusuran Kampung Pulo, Jakarta Timur, Agustus 2015. The Jakarta Post/P. J. Leo

Penggusuran paksa adalah suatu metode lama yang telah digunakan sejak zaman dulu. Ciri-cirinya adalah, tidak ada dialog (sosialisasi satu arah, monolog), tidak ada diskusi dan partisipasi warga yang bakal dipindah, dan kerap menggunakan kekerasan (TNI, Satpol PP, buldoser).

Akhir-akhir ini ada banyak upaya menggiring opini publik bahwa penggusuran adalah relokasi, dan karena ada rusunawa maka penggusuran adalah manusiawi.

Orang-orang, dengan penghakimannya, telah menolak memikirkan bersama cara mencapai kota tanpa kumuh yang tidak melanggar undang-undang, tidak melanggar prinsip-prinsip PBB, bahkan yang tidak melanggar kerangka kerja Bank Dunia, yang standarnya sebenarnya cukup rendah. Mereka telah menutup pintu terhadap prinsip demokrasi dalam penataan…


Evi Mariani

The Jakarta Post/Jakarta | 20 Mei 2016

Ilmuwan dari berbagai universitas dan konsultan Belanda Deltares menawarkan alternatif yang lebih murah terhadap usulan untuk menangkal banjir rob di Jakarta yang mengalami amblesan dengan membangun tembok laut raksasa yang disebut sebagai Great Garuda, yang akan menutup Teluk Jakarta.

Proyek ini akan memakan biaya sebesar US$20,3 miliar dalam bentuk public-private partnership (PPP) selama 15 tahun.

Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah memerintahkan jajaran pemerintahan untuk melanjutkan proyek tanggul laut, yang juga disebut sebagai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Presiden yakin bahwa Great Garuda adalah jawaban untuk masalah amblesan tanah di Jakarta.


A story of the journalist as a young woman, when she saved herself from the oblivion of Floating Mass 2.0

Dari remaja culun berponi saya belajar ideologi dari teman-teman di masa kuliah. Awalnya untuk skripsi saya meneliti surat kabar lama, termasuk Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia. Foto: Evi Mariani.

Dua puluh dua tahun yang lalu saya adalah remaja berponi dan culun yang tak paham politik dan sejarah di luar yang diajarkan propaganda Orde Baru di SMA St. Aloysius, Bandung.

Saya keturunan Tionghoa yang tidak pernah mendengar nama Soe Hok Gie satu kali pun. Saya nyaris kehilangan teman di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), namanya Nuraini Juliastuti dari Surabaya, yang bersumpah tidak mau berteman dengan orang yang tak tahu Hok Gie. Saya ga ngaku sama dia tentunya. Sampai sekarang kami masih berteman baik.

Waktu penataran Pancasila (P4) di UGM di minggu-minggu awal kuliah, saya ingat…

Contra Mundum

An Indonesian journalist writing on inequality, sex and gender, human rights and the environment.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store